BMKG Prediksi Yogyakarta Berawan di Malam Pergantian Tahun Baru 2024

bmkg-prediksi-yogyakarta-berawan-di-malam-pergantian-tahun-baru-2024

Suasana malam di kawasan Tugu Pal Putih atau yang lebih dikenal dengan Tugu Yogyakarta. (Sumber: Kurniawan Eka Mulyana)

Penulis : Kiki Luqman | Editor : Desy Afrianti

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV – Cuaca pada malam tahun baru di seluruh wilayah kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi akan berawan, hal ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Warjono, DIY diperkirakan akan mengalami kondisi berawan saat malam pergantian tahun.

Lima kabupaten/kota di DIY, termasuk kawasan Tugu, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta, memiliki kelembapan udara antara 65 hingga 95 persen, suhu udara berkisar antara 24 hingga 32 derajat Celsius, dan diperkirakan akan berawan pada malam 31 Desember, serta cerah berawan pada dini hari 1 Januari.

“Untuk nanti malam pas pergantian tahun DIY diprakirakan berawan,” kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono saat dihubungi di Yogyakarta, Minggu.

Tinggi gelombang di pesisir selatan DIY saat ini berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter, masuk dalam kategori sedang.

Baca Juga: TPN Ganjar-Mahfud Sebut Kekerasan pada Relawan di Yogyakarta dan Jateng Timbulkan Ketakutan

Warjono menjelaskan bahwa hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari di Kota Yogyakarta, termasuk kawasan Tugu, Malioboro, dan Keraton Yogyakarta.

Selain itu, potensi hujan sedang-lebat juga diprediksi di Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo bagian Utara pada siang hingga sore. Warjono mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

Prakiraan cuaca juga mencakup potensi hujan sedang-lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang pada 1 dan 2 Januari 2024 di sejumlah wilayah DIY. 

Warjono menyebut bahwa potensi ini dipengaruhi oleh adanya sirkulasi siklonik di Kalimantan, yang menyebabkan daerah belokan angin (shearline) di Laut Jawa, mengakibatkan perlambatan kecepatan angin.

Meskipun pola angin baratan mulai aktif secara umum, Warjono menekankan perlunya terus memantau publikasi informasi BMKG untuk mengambil langkah-langkah yang lebih aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas.

“Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi https://makcauhai.com/ memicu kejadian bencana hidrometeorologi.”

“Silakan untuk menjalankan aktivitas, namun terus memonitor publikasi informasi BMKG agar dapat melakukan langkah-langkah yang lebih aman dan nyaman,” ujar Warjono dikutip dari Antara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*